Langsung ke konten utama

Negara Kedaulatan Nusantara

Oleh : Ismail Marzuqi




Beberapa waktu yang lalu ketika saya melewati Kawasan Kota Lama Semarang selepas saya pulang dari Pasar Johar —yah meskipun sebagian besar hanya tinggal puing-puing saja akibat kebakaran beberapa waktu lalu— saya takjub pada bangunan peninggalan kolonial Belanda yang  ada di sana. Bagaimana jadinya jika saya hidup beberapa tahun yang lalu saat Indonesia masih bernama Hindia-Belanda. Namun pikiran saya kemudian mundur lagi pada masa dimana Indonesia atau Nusantara ini masih terdiri atas kerajaan-kerajaan yang independen.

Lalu apa jadinya jika Belanda tidak menginjakan kakinya di Indonesia. Masihkah kerajaan-kerajaan yang dulu berdiri masih ada hingga kini?

Dulu Nusantara terdiri dari kerajaan-kerajaan yang tersebar dari ujung barat hingga ujung timur. Setiap kerajaan memiliki bahasa dan aksaranya masing-masing.

Kerajaan Majapahit memiliki aksara Carakan, Kerajaan Sunda juga memiliki aksara Sundanya sendiri. Begitu juga dengan kerajaan-kerajaan yang lain.

Namun sayangnya,ketika Belanda mulai membuat koloni di Nusantara, mereka menggantikan posisi aksara-aksara​ yang ada dengan aksara latin yang mereka bawa. Dan itulah mengapa sampai saat ini kita masih menggunakan aksara latin. Meskipun memang aksara-aksara, seperti aksara Carakan atau Hanacaraka, aksara Sunda, aksara Bali masih di ajarkan di sekolah-sekolah. Tapi sayangnya itu hanya sebatas pengunaanmya dalam pelajaran bahasa daerah di sekolah. Sementara untuk aksara yang gunakan sehari-hari kita masih menggunakan aksra latin.

Saya tidak tahu, apakah dengan menggunakan aksara latin memiliki banyak keuntungannya, tapi menurut pendapat pribadi,saya lebih suka jika tidak menggunakan  aksara ​latin. Saya sendiri lebih sering menulis agenda saya dalam aksara Carakan (Hanacaraka), karena saya orang Jawa.

Saya  membayangkan jika saat ini kita masih menggunakan aksara-aksara tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Aksara yang digunakan secara kontinyu. Kagum seandainya jika di jalan menjumpai papan jalan, dalam dwi bahasa, satu bahasa kerajaan dan satu bahasa universal.

Memang sih, saat ini kita bisa menemukan papan tanda jalan yang bertulisan aksara Carakan di Yogyakarta dan juga Aksara Sunda di beberapa daerah di Jawa Barat. Namun itu belum bisa menggantikan kedudukan aksara latin dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dan jika kerajaan-kerajaan​ tersebut masih berdiri hingga sekarang selain  miliki bahasa dan aksara sendiri tentunya, Nusantara juga harus punya satu bahasa universal yang digunakan sebagai bahasa antar kerajaan. Kita bisa sebut mungkin bahasa Inggris.

Jepang dan Thailand adalah negara yang masih menggunakan aksara mereka sendiri. Tidak hanya kedua negara tersebut, namun masih banyak negara-negara lain yang tidak menggunakan aksara latin  dan masih bisa berinteraksi dengan negara-negara yang menggunakan aksara latin.

Dalam benak saya Nusantara adalah sebuah negara besar yang terdiri atas kerajaan-kerajaan yang tersebar diberbagai pulau, Meskipun kerajaan-kerajaan​ tersebut memiliki sistem dan otoritas pemerintah sendiri, namun kerajaan di dalam Nusantara masih satu negara.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lebaran 2021

Sebelumnya saya terlebih dulu ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Selamat atas puasa penuh selama sebulan, semoga amal kita di terima di sisi Allah SWT. Amin. Tahun ini adalah tahun ke dua dimana merayakan lebaran masih di tengah suasana pandemi Covid. Bahkan dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun ini pelarangan untuk tidak mudik lebih diperketat. Penjagaan di beberapa titik perbatasan di daerah-daerah di Indonesia dilakukan untuk mencegah para pemudik dan mereka dihimbau untuk putar balik.  Banyak saudara-saudara kita yang tidak bisa melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman. Karena sudah dua kali ini mudik dilarang. Alhamdulillah ada beberapa pemudik yang masih bisa melakukan mudik dan bertemu dengan keluarganya di kampung.  Bahkan di kampung saya pun, yang biasanya ada acara arak-arakan mobil hias setiap malam takbirnya juga tidak ada karena berpotensi menciptakan kerumunan. Setidaknya kita masih lebih mending dibanding dengan mereka...

Bekerja di Neraka - Pengalaman Horor di Kantor

 Ini adalah salah satu pengalaman horor yang terjadi di sebuah kantor swasta di Ibukota.  “Niko sedang menatap layar komputernya dengan tegang. Matanya melotot, dan kepalanya pun migran. Tangannya setengah meremas tetikus yang Ia genggam. Dirinya ingin sekali bergerak dan lari. Namun, tubuhnya kaku.” Niko adalah satu diantara sekian banyak karyawan atau pekerja di luar sana yang juga berada di Lingkungan Kerja Toxic . Hampir setiap hari dia berangkat kerja, dan hanya libur di hari Minggu saja. Overtime yang sering Ia lakukan tanpa adanya insentif tambahan dari atasan. Kerja ekstra diluar job desk -Nya. Belum lagi hal-hal lain yang sering atasannya lakukan. Sedikit kesalahan yang mendapat murka atasannya, tapi ketika melakukan hal yang bagus tak ada yg namanya reward .  Resign adalah jalan terbaik yang bisa dilakukan jika ada beberapa opsi yang dimiliki atau jika Kita memiliki cadangan. Namun, jika tidak tentunya Kita akan berpikir dua kali untuk melakukannya....

Pentingnya Tabayyun

https://pin.it/Kg7jQ8v Ibnu Hajar Asqalani , ulama dan pakar hadits, dalam kitab " Fathul Barri ", Beliau berkata umur umat Islam sampai 1476 H. Sementara Imam As-Syuyuthi mengatakan umur umat Islam sampai 1477 H. Dan Ibnu Hajar Hambali menulis, umur umat Islam lebih dari 1400 H namun tidak sampai 1500 H. "Prediksi tersebut dikatakan diambil dari sebuah hadis, yang menurut beberapa orang yang diyakini keshahihannya. Tetapi, justru ahli hadis sendiri menentang kebenaran hadis yang jadi pegangan mereka. Para ahli hadis bahkan sampai mengatakan bahwa hadis-hadis yang digunakan dalam kitab tertentu adalah hadis palsu dan batil. 100% tidak bisa dijadikan dasar dalam urusan agama." Imam Ibnu Jarir At-Thabari (wafat 310 H) rahimahullah. Beliau menggali berbagai dalil –sekalipun dhaif– dan menyimpulkan bahwa kehancuran dunia setelah 500 tahun setelah kenabian. (Mukadimah Ibnu Khaldun, hlm. 449 ). Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) rahimahullah. Beliau menulis satu kump...